PROPENAJAM.COM – Target ambisius Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen kembali menjadi sorotan, seiring pandangan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang menilai Indonesia tidak perlu merancang skema baru untuk mencapainya. Menurut GAPKI, fondasi menuju pertumbuhan tinggi sebenarnya telah tersedia dan teruji melalui ekosistem industri kelapa sawit yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Analis keberlanjutan yang juga Ketua Bidang Kampanye Positif GAPKI, Edi Suhardi, menyebut bahwa kekuatan ekonomi tidak lahir dari kebijakan reaktif, melainkan dari konsistensi dan kepercayaan pasar. Ia mengibaratkan sektor kelapa sawit sebagai “guru sunyi” yang telah lama membuktikan perannya dalam membangun kemandirian nasional. “Selama puluhan tahun, sektor ini menunjukkan bahwa ekosistem yang matang adalah kunci keberlanjutan ekonomi,” ujarnya.
Data yang disampaikan menunjukkan kontribusi signifikan industri sawit terhadap perekonomian. Dengan proyeksi produksi mencapai 57 juta ton crude palm oil (CPO) dan harga global di kisaran US$ 1.100 per ton, sektor ini tetap menjadi penyumbang devisa utama. Selain itu, implementasi mandatori biodiesel dari B40 hingga B50 dinilai berhasil mengurangi ketergantungan impor solar, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dampaknya juga dirasakan langsung oleh sekitar 16,5 juta keluarga petani yang menggantungkan hidup pada industri ini.

Dialog Data, Bukan Langkah Hukum
Menanggapi dinamika kebijakan pangan yang berkembang, Edi Suhardi menilai perbedaan data antara pengamat dan pemerintah seharusnya diselesaikan melalui dialog terbuka, bukan jalur hukum. Ia menekankan bahwa transparansi dan diskusi yang sehat justru akan memperkuat kepercayaan investor terhadap Indonesia.
“Perbedaan pendapat itu wajar dan bisa menjadi bahan evaluasi. Namun jika ruang dialog hilang, yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik, dan itu sangat mahal bagi iklim investasi,” tegasnya.
Tiga Kunci Pertumbuhan Berkualitas
Agar target pertumbuhan 8 persen tidak hanya menjadi angka statistik, GAPKI menyoroti tiga prinsip utama yang perlu dijaga. Pertama, konsistensi regulasi tanpa perubahan mendadak yang berpotensi mengganggu iklim investasi jangka panjang. Kedua, peran swasta sebagai mitra strategis dalam mendorong inovasi dan efisiensi. Ketiga, keterlibatan petani sebagai aktor utama yang menikmati nilai tambah dari rantai produksi.
Berdasarkan data terbaru, industri kelapa sawit berkontribusi sekitar 13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 29 persen tenaga kerja. Angka ini memperkuat posisi sektor berbasis budidaya sebagai salah satu penopang utama stabilitas ekonomi Indonesia.
“Pada akhirnya, kelapa sawit bukan sekadar komoditas, tetapi cerminan bagi sektor lain. Jika kebijakan dijalankan secara konsisten dan terbuka, maka target 8 persen bukan mustahil, melainkan konsekuensi logis dari arah pembangunan yang tepat,” tutup Edi Suhardi.







Be First to Comment