PROPENAJAM.COM – Industri kelapa sawit Indonesia tengah memasuki fase yang tidak mudah. Tekanan geopolitik global, ancaman regulasi Uni Eropa, hingga kebijakan energi nasional membuat Rakernas GAPKI 2026 di Solo menjadi perhatian besar pelaku usaha dan pemerintah.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung 20-22 Mei 2026 itu disebut bukan hanya agenda organisasi tahunan, melainkan forum strategis menentukan arah masa depan sawit Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.
Ketua Bidang Kampanye Positif GAPKI, Edi Suhardi, menyebut industri sawit Indonesia kini menghadapi tantangan besar dari kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mengharuskan adanya sistem ketertelusuran rantai pasok secara ketat.
Menurutnya, industri sawit Indonesia harus mulai bergerak dari pola defensif menuju diplomasi dagang yang lebih aktif agar tetap diterima pasar internasional.
Selain tekanan ekspor, Rakernas GAPKI juga membahas dampak kebijakan biodiesel B40-B50 terhadap kebutuhan crude palm oil (CPO) nasional. Pemerintah dan pelaku usaha diminta menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, pasokan minyak goreng domestik, dan komitmen ekspor Indonesia.
Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) juga menjadi pembahasan utama karena dinilai masih berjalan lambat akibat birokrasi dan persoalan lahan. GAPKI mendorong pemerintah mempercepat akses bantuan replanting untuk petani sawit rakyat.
Di sisi lain, isu keberlanjutan dan perubahan iklim mulai menjadi tantangan nyata bagi industri sawit nasional. Fenomena El Nino dan La Nina disebut berdampak langsung terhadap pola panen dan produktivitas kebun sawit.
Rakernas GAPKI di Solo diharapkan menghasilkan roadmap baru yang mampu menjaga daya saing sawit Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat. (rief)







Be First to Comment